Penyebab Munculnya Jerawat di Wajah

Jerawat, atau dalam bahasa medisnya disebut akne, merupakan salah satu penyakit kulit yang banyak dijumpai secara global pada remaja dan dewasa muda (Yuindartanto, 2009).

Akne adalah salah satu penyakit peradangan menahun folikel pilosebasus yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodus serta kista di tempat predileksinya (Wasitaatmadja, 2001). Akne vulgaris adalah penyakit yang umumnya bisa sembuh sendiri yang muncul dengan beragam lesi (Fleischer, 2000).

Kligman mengatakan bahwa tidak ada seorang pun (artinya 100%), yang sama sekali tidak pernah menderita penyakit ini (Wasitaatmadja, 2008). Angka kejadiannya akne vulgaris berkisar 85% dan terbanyak pada usia muda (Tjekyan, 2009).

Umumnya, akne terjadi pada masa remaja usia 14-17 tahun pada perempuan dan 16-19 tahun pada laki-laki (Wasitaatmadja, 2001). Walaupun hampir semua terjadi pada masa remaja, akne dapat berlanjut sampai dekade ketiga ke kelima (Fleischer, 2000). Akne dapat muncul pada segala usia, tetapi pengaruh hormonal yang membuatnya lebih sering muncul pada masa remaja (Fleischer, 2000).

Selain itu, banyak faktor yang memicu terjadinya akne, terutama akne vulgaris, yang justru sering terjadi pada masa remaja. Misalnya makanan dengan kadar lemak tinggi, karbohidrat dan jumlah kalori tinggi, aktivitas fisik meningkat, penggunaan kosmetik yang salah, penggunaan obat dan minuman terlarang, stres, dan lainnya (Wasitaatmadja, 2001). Menurut Wasitaatmadja (2008), meskipun etiologi yang pasti penyakit ini belum diketahui, namun ada berbagai faktor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit.

  • Perubahan pola keratinisasi dalam folikel. Keratinisasi dalam folikel yang biasanya berlangsung longgar berubah menjadi padat sehingga sukar lepas dari saluran folikel tersebut. Universitas Sumatera Utara
  • Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan peningkatan unsur komedogenik dan inflamatogenik penyebab terjadinya lesi akne.
  • Terbentuknya fraksi asam lemak bebas penyebab terjadinya proses inflamasi folikel dalam sebum dan kekentalan sebum yang penting pada patogenesis penyakit.
  • Peningkatan jumlah flora folikel (Propionibacterium acnes) yang berperan pada proses kemotaktik inflamasi serta pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum.

Timbulnya akne dapat dipicu oleh beberapa faktor risiko yang bisa didapati pada pasien akne, antara lain:

1. Keturunan.

Faktor keturunan sangat berpengaruh pada besar aktivitas kelenjar sebasea. Apabila kedua orang tua mempunyai parut bekas akne kemungkinan besar anaknya menderita akne. Namun selain faktor herediter masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi akne vulgaris (Tjekyan, 2009).

2. Keseimbangan hormon.

Perubahan hormon testosteron dan progesteron pada usia dewasa dapat mempengaruhi ukuran dan aktivitas kelenjar sebaseus. Hormon androgen berperan dalam keratinosit folikular untuk merangsang hiperproliferasi keratinosit. (Zaenglein, 2008). Selain itu, kelenjar adrenal juga berperan dalam produksi akne. Kecemasan, stres, tekanan emosi, dan kelemahan memiliki efek pasti pada penyebab akne (Wilkinson, 1969).

3. Makanan.

Kaitan antara akne vulgaris dan makanan masih diperdebatkan. Saat ini belum ada bukti bahwa coklat, susu, seafood, atau makanan lain dapat langsung menyebabkan akne. Makanan tersebut dapat mempengaruhi metabolisme tubuh sehingga mengaktifkan kelenjar pilosebasea untuk menghasilkan sebum dan bila terjadi penyumbatan pada folikelnya maka dapat menjadi awal dari akne, namun metabolisme tubuh setiap individu berbeda-beda sehingga reaksi yang terjadi pada kelenjar pilosebasea tidak sama pada setiap individu (Tjekyan, 2009). Universitas Sumatera Utara

4. Kebersihan.

Banyak orang percaya bahwa akne vulgaris disebabkan oleh kulit yang kotor, padahal jika kita hanya membersihkan saja tidak akan mampu mengatasi jerawat. Di lain pihak, membersihkan wajah secara berlebihan dengan produk-produk seperti alkohol-based cleanser dan scrub dapat mengiritasi kulit lebih jauh dan memperparah akne vulgaris. Padahal sebenarnya diperlukan hanya membersihkan wajah dua kali sehari dengan air dan sabun yang lembut untuk mengurangi minyak yang berlebih dan mengangkat kulit mati. Dari penelitian yang sudah ada, didapati frekuensi membersihkan wajah berhubungan linier, dimana semakin sering wajah dibersihkan semakin rendah angka kejadian akne vulgaris (Tjekyan, 2009).

5. Penggunaan kosmetik.

Bahan-bahan kimia yang ada dalam kosmetik dapat langsung menyebabkan akne vulgaris. Biasanya kosmetik ini menyebabkan akne dalam bentuk ringan terutama komedo tertutup dengan beberapa lesi papulopustul di daerah pipi dan dagu. Dari penelitian yang sudah ada, didapati angka kejadian akne vulgaris pada kelompok yang menggunakan kosmetika mencapai sepuluh kali lipat lebih banyak daripada responden yang tidak menggunakan kosmetik (Tjekyan, 2009). Kelima faktor risiko tersebut diduga berperan dalam timbulnya akne.

Faktor-faktor tersebutlah yang akan diteliti dalam karya tulis ilmiah ini untuk mengetahui seberapa besar faktor risiko yang didapati ini berpengaruh dalam timbulnya akne di kalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara agar dapat dilakukan upaya pencegahan dengan menghindari faktor risiko yang dapat diubah.